Impor Susu Indonesia: Kebutuhan, Tantangan, dan Dampaknya

Indonesia merupakan salah satu pengimpor susu terbesar di dunia, dengan ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan dari luar negeri. Artikel ini membahas secara komprehensif tentang impor susu di Indonesia, mulai dari latar belakang, volume, negara asal, hingga dampak dan proyeksi ke depannya.
1. Mengapa Indonesia Harus Mengimpor Susu?
- Kesenjangan Produksi-Demand: Permintaan susu dalam negeri terus tumbuh (sekitar 3-4% per tahun), sementara produksi susu lokal hanya memenuhi sekitar 22% dari total kebutuhan. Sebagian besar susu segar lokal digunakan untuk produk olahan seperti yogurt dan krimer, sedangkan untuk susu bubuk dan keju masih sangat bergantung impor.
- Keterbatasan Peternakan Lokal:
- Populasi sapi perah hanya sekitar 600.000 ekor (bandingkan dengan India: 60 juta ekor).
- Produktivitas rendah (rata-rata 12 liter/ekor/hari vs. Australia 20-30 liter/ekor/hari).
- Biaya produksi tinggi (pakan impor mahal, infrastruktur terbatas).
- Kebutuhan Industri Olahan: Susu impor (terutama dalam bentuk bubuk skim, whole milk powder, dan whey) menjadi bahan baku vital untuk industri makanan & minuman, seperti susu kemasan, permen, biskuit, dan makanan bayi.
2. Data dan Tren Impor Susu
- Volume & Nilai:
- Periode Januari-November 2023: 318,9 ribu ton (US$ 1,25 miliar).
- Sepanjang 2022: 326,9 ribu ton (US$ 1,36 miliar).
- Bentuk Impor Terbesar: Susu bubuk (skim dan whole milk), susu kental manis, keju, whey, dan butter.
- Negara Asal Utama:
- Selandia Baru (terbesar, terutama susu bubuk dan butter).
- Amerika Serikat (susu bubuk, whey, keju).
- Australia (susu segar dan bubuk).
- Eropa (Belanda, Prancis, Jerman) untuk keju dan produk olahan premium.
3. Regulasi dan Tarif Impor
- Tarif Bea Masuk: Umumnya 5% untuk Most Favoured Nation (MFN), namun untuk beberapa produk bisa mencapai 10-15%.
- Kuota Tarif: Terdapat kebijakan kuota impor dengan tarif preferensial (0-5%) untuk memenuhi kebutuhan industri.
- Larangan dan Pembatasan:
- Bea Masuk Tambahan (BMTPP) sempat diterapkan untuk melindungi peternak lokal, namun menuai pro-kontra.
- Lartas (larangan dan pembatasan) untuk produk susu tertentu dari negara dengan wabah penyakit hewan.
4. Dampak Impor Susu
- Positif:
- Menjaga stabilitas harga susu dan produk turunannya.
- Mendukung industri olahan yang menyerap tenaga kerja.
- Memenuhi kebutuhan gizi masyarakat dengan harga terjangkau.
- Negatif:
- Tekanan bagi peternak lokal yang kesulitan bersaing.
- Ketergantungan pada pasar global (fluktuasi harga, risiko supply chain).
- Defisit neraca perdagangan sektor peternakan.
5. Tantangan dan Kontroversi
- Isu Kualitas dan Keamanan Pangan: Beberapa kasus impor susu mengandung bakteri atau residu antibiotik.
- Perang Dagang dan Subsidi: Negara pengekspor seperti Selandia Baru dan Uni Eropa memberikan subsidi besar pada peternaknya, sehingga harga susu impor lebih murah.
- Debat Proteksi vs. Pasar Bebas: Upaya pemerintah melindungi peternak lokal (misal melalui BMTPP) sering ditentang industri pengolahan karena khawatir biaya produksi naik.
6. Masa Depan: Swasembada atau Ketergantungan?
- Program Swasembada Susu pemerintah masih jauh dari target karena butuh waktu panjang untuk:
- Meningkatkan populasi dan produktivitas sapi perah.
- Mengembangkan pakan lokal (hijauan) untuk mengurangi biaya.
- Membangun infrastruktur pendingin (cold chain) dari peternak ke industri.
- Solusi Alternatif:
- Kerja sama kemitraan peternak dengan industri (contoh: program susu segar oleh Frisian Flag, Nestlé).
- Diversifikasi produk susu lokal (susu UHT, yogurt, cheese premium).
- Penelitian pakan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas susu.
7. Kesimpulan
Impor susu masih akan menjadi pilar utama pemenuhan kebutuhan susu nasional dalam jangka menengah. Namun, langkah strategis untuk memperkuat produksi dalam negeri harus terus didorong agar ketergantungan berkurang. Keseimbangan antara melindungi peternak lokal, memenuhi kebutuhan industri, dan menjaga harga terjangkau bagi konsumen menjadi kunci kebijakan impor susu ke depan.
Sumber data: BPS, Kementerian Pertanian, Asosiasi Produsen Susu Olahan Indonesia (Apsyosi), FAO, Trade Map.
Impor Susu Indonesia
